Pendahuluan

إِنَّ الْحَمْدَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. أَمَّا بَعْدُ

Sungguh suatu kedusataan dan penipuan terhadap umat yang sangat besar yang dilakukan oleh salah seorang aktor Bom Bali, Imam Samudra, di dalam bukunya “Aku Melawan Teroris”. Dengan itu ia hendak membalik opini agar aksi teror bom Bali yang ia lakukan menjadi benar dan patut didukung.

Di samping itu upaya justifikasi terhadap berbagai aksi teror dan terhadap para teroris yang dilakukan oleh para neo-khawarij sedemikian gencar dipropagandakan kepada umat. Lanjutkan membaca Pendahuluan