Demikianlah, saudara Abduh ZA dalam STSK-nya sangat telaten dan bersemangat dalam mencari dan menunjukkan kesalahan-kesalahan sepele yang ada dalam buku MAT. Saking bersemangatnya untuk bisa mengesankan kepada pembaca tentang kekurangan dan kesalahan dalam MAT, saudara Abduh Zulfidar Akaha pun tidak melewatkan kesalahan-kesalahan ketik dan hal-hal tidak perlu lainnya, yang menurut orang awam pun sangat sepele dan berlebihan. Sehingga urusan huruf (s) kecil atau huruf (S) besar pun tidak ia lewatkan. Perhatikan contoh catatan kaki yang bertebaran di STSK : selengkapnya »
Kemudian tidak kalah lucu dan menggelikan, adalah bagaimana dia membela diri atas kesalahan dalam penyebutan nomor hadits. Duduk perkaranya, adalah ketika saudara Abduh menyebutkan takhrîj hadits dalam salah satu catatan kaki di STSK-nya, yaitu catatan kaki no. 24 sebagai berikut :
“Sunan Abi Dawud/Kitab Al-Adab/Bab Fi Husni Al-’Usyrah/hadits nomor 4156. Syaikh Al-Albani menshahihkan hadits ini dalam Shahih Abi Dawud/Jilid 3/hlm 909/hadits nomor 4005.”
[cetak tebal dari saya]
[Berterus terang Telah Berdusta Atas Nama Asy-Syaikh Al-Albâni]
Demikianlah, saudara Abduh ZA dalam BAUS-nya dengan kepiawaiannya yang khas terus melakukan pembelaan diri. Baik dalam catatan kaki maupun dalam pembahasan-pembahasan khusus. Namun sayang, semakin dia membela diri justru semakin membongkar kedustaan dan kesalahan dia. Ambil contoh, misalnya : selengkapnya »
Abduh Zulfidar Akaha yang pada Catatan I–nya dalam BAUS menyoal Al-Ustadz Luqman karena ia anggap telah mengabaikan kemanusian seorang manusia, ternyata dia sendiri dalam BAUS -nya ini pula tidak melewatkan untuk mengungkit masalah-masalah sepele yang merupakan kesalahan manusiawi. Seperti biasa, dia melakukannya dengan caranya yang ‘halus’.
Contohnya : Pada halaman 19. Abduh ZA mengomentari perkataan Al-Ustadz Luqman dalam MDMTK : selengkapnya »
Berikutnya, Abduh Zulfidar meletakkan pembahasan : Catatan 2 Pustaka Qaulan Sadida pun Bicara Tanpa Ilmu. Di sini Abduh mempunyai gaya tersendiri dalam menjatuhkan suatu penerbit buku, dalam hal ini Pustaka Qaulan Sadida.
Abduh mengawali pembahasannya dengan mengatakan :
“Kami tidak mengetahui dan tidak mendengar serta belum pernah melihat buku-buku apa saja yang telah diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Qaulan Sadida yang berada di kota Malang, Jawa Timur, ini selain dua buku saja. Kedua buku tersebut yaitu, “Sebuah Tinjauan Syari’at Mereka Adalah Teroris!” dan “Menebar Dusta Membela Teroris Khawarij.” … .”
[BAUS hal. 15]




