-
-
Halaman Utama
Menu
- DARI PENERBIT (2)
- M. NEO-KHAWARIJ (3)
- MENEBAR DUSTA (16)
- Menyikap Terorisme (9)
- MEREKA ADALAH TERORIS (1)
- PENGANTAR (4)
- RESENSI (4)
- Sekelumit Catatan BAUS (7)
- Tak Berkategori (1)
- Tragedi Palestina (14)
-
Admin
-
Counter
-
Google Salaf
-
cari
-
Terbaru...
- Benarkah Syaikh Muqbil Mengajarkan Terorisme?
- Benarkah Syaifudin Zuhri Murid Syaikh Muqbil?
- Sikap Asy-Syaikh Muqbil terhadap Usamah bin Laden
- Download Mengenal Lebih Dekat Asy-Syaikh Muqbil
- Mengenal Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i
- Syi’ar Islam, bukan Ciri-Ciri Teroris!!
- Sikap terhadap Aksi Terorisme - Khawarij
- MENYIKAPI AKSI-AKSI TERORIS KHAWARIJ
- Agar Anak Tidak Menjadi TERORIS
- Sikap Terhadap Penjajahan Yahudi Bag-10
- Sikap Terhadap Penjajahan Yahudi Bag-9
- Sikap Terhadap Penjajahan Yahudi Bag-8
- Sikap Terhadap Penjajahan Yahudi Bag-7
- Sikap Terhadap Penjajahan Yahudi Bag-6
- Sikap Terhadap Penjajahan Yahudi Bag-5
Arsip
- Oktober 2009 (3)
- September 2009 (4)
- Agustus 2009 (2)
- Januari 2009 (15)
- April 2008 (9)
- Maret 2008 (9)
- Februari 2008 (1)
- September 2007 (3)
- Juni 2007 (12)
- Mei 2007 (1)
- Maret 2007 (1)
-
Bingkisan Abduh
Dalam rangka menarik simpati pembaca dan mengesankan bahwa dirinya dan kelompoknya serta kelompok-kelompok yang lain sebagai pihak yang terzhalimi karena beberapa kata pedas dan keras yang kami gunakan dalam buku MAT, saudara Abduh ZA mencoba menanamkan salah satu pahamnya kepada para pembaca yaitu harus menggunakan kata-kata santun dan beretika dalam mengkritik. Adapun penggunaan kata-kata keras atau pedas –-yang ia istilahkan tidak santun dan tidak beretika—menurutnya tidak sesuai dengan syari’at Islam dan jejak as-salafush shalih. Benarkah itu semua? Para pembaca bisa melihat jawabannya dalam bab II bagian pertama buku ini.
Memang benar kami menggunakan beberapa kata yang keras dan pedas dalam buku kami MAT,namun itu semua kami lakukan sebagai bentuk kepedulian kami terhadap mereka yang terjatuh dalam berbagai kesesatan dan penyimpangan aqidah. Terpaksa hal itu kami lakukan agar mereka sadar bahwa penyimpangan yang mereka lakukan bukanlah sesuatu yang boleh dianggap remeh dalam tinjauan syari’at.
Perlu diketahui bahwa secara hukum asal, da’wah dan nasehat itu dilakukan di atas hikmah dan penggunaan kata-kata yang lembut. Namun ketika kata-kata lembut sudah tidak bermanfaat lagi, sementara kesesatan dan penyimpangannya terus dia lakukan, bahkan ditebarkan di tengah-tengah umat, sehingga semakin banyak korban yang termakan oleh kesesatannya, maka dalam kondisi seperti itu dengan terpaksa digunakanlah kata-kata keras dan pedas. Bukan berarti hal itu menafikan adanya kasih sayang terhadap sesama muslim. Perhatikan nasehat Syaikhul Isl am Ibnu Taimiyyah
, seorang ‘ulama besar yang tidak diragukan lagi keilmuannya,:

“Seorang mu’min terhadap mu’min yang lainnya bagaikan kedua tangan, salah satunya mencuci tangan yang lain, namun bisa saja kotoran (yang melekat di tangan) tidak bisa hilang kecuali dengan bentuk cara (pembersihan) yang keras/kasar. Namun (cara keras/kasar seperti) itu benar-benar mendatangkan kebersihan dan kehalusan (pada tangan) yang membuat kita memuji cara yang kasar tersebut.” [Majmu’ul FatawaXXVIII/53-54].
Untuk melengkapi syubhatnya, dalam pengantar bukunya saudara Abduh ZA sempat menukil nasehat Asy-Syaikh Al-’Allamah ‘Abdul ‘Az iz bin Baz
dan Asy-Syaikh Al-’Allamah Al-Faqih Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin
dalam rangka mengesankan bahwa kedua syaikh tersebut antipati terhadap penggunaan kata-kata keras dan pedas, bahkan antipati terhadap sikap mengkritik tokoh-tokoh sesat, dan bahwa apa yang kami tuliskan dalam MAT tidak sesuai dengan nasehat kedua ‘ulama besar tersebut. Demikiankah adanya? Para pembaca bisa membuktikannya sendiri dari apa yang akan kami paparkan pada bab II bagian pertama, tentang Metode Al-Jarh wat Ta’dil versi Abduh ZA.
Dari : Menebar Dusta Membela Teroris Khawarij, hal. 45-46.




