Demikianlah, saudara Abduh ZA dalam STSK-nya sangat telaten dan bersemangat dalam mencari dan menunjukkan kesalahan-kesalahan sepele yang ada dalam buku MAT. Saking bersemangatnya untuk bisa mengesankan kepada pembaca tentang kekurangan dan kesalahan dalam MAT, saudara Abduh Zulfidar Akaha pun tidak melewatkan kesalahan-kesalahan ketik dan hal-hal tidak perlu lainnya, yang menurut orang awam pun sangat sepele dan berlebihan. Sehingga urusan huruf (s) kecil atau huruf (S) besar pun tidak ia lewatkan. Perhatikan contoh catatan kaki yang bertebaran di STSK :
Catatan kaki no. 236 halaman 138:
“Demikian tertulis di buku aslinya, dengan huruf kecil (s) pada kata shahih.”
Catatan kaki no. 240 halaman 140 :
“Ibid, hlm 178. Kami nukil persis seperti aslinya, termasuk huruf besar dan kecil pada kata “Ahlus Sunnah” dan “ahlus sunnah” serta “‘ulama” dan “ulama.” “
Catatan kaki no. 247 halaman 142:
“Mereka Adalah Teroris!/hlm 78/Cetakan pertama. Dikutip sesuai aslinya, termasuk huruf besar pada kata “Wahai.” Anda bisa melihat takhrijnya dalam buku Al Ustadz Luqman tersebut.”
Catatan kaki no. 237 halaman 138:
“Seharusnya “Takhrij” dengan garis bawah pada huruf “i”.”
Bahkan, saya juga melihat hampir tidak ada tidak faedah yang bisa dipetik dari apa yang ia tampilkan ini selain menambah-nambah tebalnya buku STSK. 2) Sebab bagaimana seorang yang mengaku salafi ini mau menyibukkan dirinya untuk sekadar ngurusi huruf (s) kecil; “termasuk huruf besar pada kata “Wahai.”; Kata “Ahlus Sunnah” atau “ahlus sunnah”; atau apakah ini adalah kesibukan sesungguhnya? Wallâhu a’lam.
Anehnya, cara-cara seperti itu hanya dilakukan oleh saudara Abduh ZA terhadap MAT. Ketika menukil dari sumber lain, dia tidak melakukan “kritik tajam” sampai sekadar huruf besar dan huruf kecil, garis bawah, … dst. Contohnya, ketika saudara Abduh ZA dalam STSK hal. 3 menukil dari DSDB-nya Abu Abdirrahman Al Thalibi :
“Seperti kejadian terbaru dengan munculnya buku “Mereka Adalah Teroris!” karya dari mereka yang bernama Luqman bin Muhammad Ba’abduh. Maksudnya sih ingin mengcounter buku Imam Samudra “Aku Melawan Teroris!”, namun yang dihantam bukan hanya Imam Samudra, tetapi semua kelompok haraki dihantam pula, dan disudutkan sebagai neo-khawarij. Seolah-olah yang lain sesat dan batil dan yang Ahlu Sunnah dan benar adalah kelompoknya saja.”
Demikian saudara Abduh ZA menukilnya dalam STSK. Padahal, dalam penukilannya tersebut, saudara Abduh telah melakukan banyak perubahan dari buku aslinya yang tertulis sebagai berikut :
“Seperti kejadian terbaru dengan munculnya buku “Mereka Adalah Teroris” karya dari mereka yang bernama Luqman bin Muhammad Ba’abduh. Maksudnya sih ingin mengcounter buku Imam Samudra “Aku Melawan Teroris“, namun yang dihantam bukan hanya Imam Samudra, namun semua kelompok Haraki dihantam pula, dan disudutkan sebagai Neo-Khawarij. Seolah-olah yang lain sesat dan batil dan yang ahlu sunnah dan benar adalah kelompoknya saja.” 3)
Perhatikan, saudara Abduh telah melakukan sekian perubahan, baik huruf besar, cetak tebal, huruf miring (italic), pemberian tanda seru … dll. Namun tidak ada komentar sama sekali, misalnya komentar “huruf miring pada kata sih dan counter dari kami”; atau “huruf besar (H) dan (N) dari kami,”; atau komentar-komentar senada.
Namun giliran menukil dari MAT, maka saudara Abduh ZA sangat cermat dan teliti. Contohnya, dalam STSK hal. 138 saudara Abduh ZA menukil salah satu catatan kaki dari buku MAT sebagai berikut :
“Hadits tentang iftiraqul Ummah ini diriwayatkan dari beberapa shahabat, antara lain: Abu Hurairah, Mu’awiyah bin Abu Sufyan, Anas bin Malik, ‘Auf bin Malik, Ibnu Mas’ud, Abu Umamah, ‘Ali bin Abi Thalib, dan Sa’d bin Abi Waqqash Radhiyallahu Anhum. Hadits ini adalah hadits yang shahih, dishahihkan oleh para ‘ulama besar dari kalangan ahlul hadits Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Di antaranya: AtTirmidzi, Al Hakim, Adz Dzahabi, Al Baghawi dalam Syarhus Sunnah, Asy Syathibi dalam Al I’tisham, Ibnu Taimiyyah dalam Majmu’ Al Fatawa, Ibnu Hibban dalam shahihnya, Ibnu Katsir dalam tafsirnya, Ibnu Hajar dalam Takhrij Al Kasyaf, dll. Termasuk juga, Muhadditsul ‘Ashr Asy Syaikh Al ‘Allamah Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah .”
Hanya menukil dari satu catatan kaki yang terdapat dalam buku MAT , namun saudara Abduh ZA menyempatkan diri ngurusi perkara-perkara sepele yang tidak ada faedahnya untuk ditampilkan. Tidak kurang enam catatan kaki ia berikan pada catatan kaki yang ia nukil dari MAT tersebut, yaitu catatan kaki no. 233 sampai no. 238, yang isinya sebagai berikut :
233. Semestinya bin Abi Sufyan. Tetapi karena ini soal transliterasi, jadi bisa dimaklumi.
234. Yang bergaris bawah ini dari kami. Sekadar penekanan, apakah benar bahwa hadits tersebut dishahihkan oleh para ulama besar yang beliau sebutkan.
235. Semestinya “Majmu’ Al Fatawa” dengan garis bawah juga pada huruf “U” di kata Majmu’. 4)
236. Demikian tertulis di buku aslinya, dengan huruf kecil (s) pada kata shahih.
237. Seharusnya “Takhrij” dengan garis bawah pada huruf “i”.
238. Mereka Adalah Teroris!/hlm 79, cetatan kaki/Cetakan Pertama. Atau, halaman 87 cetakan kedua.5 )
Demikianlah, saudara Abduh ZA sangat cermat, teliti, dan telaten untuk bisa menemukan kesalahan-kesalahan yang ada kemudian menampilkannya kepada para pembaca. 6) Yang demikian banyak bertebaran dalam catatan kaki-catatan kaki buku STSK-nya ketika ia menukil dari MAT. Dari sini menimbulkan tanda tanya besar; Ada apa dengan Al-Ustadz Luqman? Ada apa dengan MAT? Kenapa saudara Abduh begitu kritis dan teliti ketika menukil dari MAT?
Saking cermat dan telitinya, saudara Abduh ini sampai-sampai dalam STSK menyempatkan diri untuk mengomentari penulisan kata “fajir” yang ia nukil dari MAT. Tepatnya pada STSK hal. 226 catatan kaki no. 427 saudara Abduh berkomentar sebagai berikut :
Biasanya, Al Ustadz Luqman menulis dengan huruf miring (italic) untuk kata-kata tertentu yang berasal dari bahasa asing. Tetapi, untuk yang ini mungkin beliau lupa.
Rupanya inilah ‘etika’ saudara Abduh ketika menukil dari MAT. Namun sayang, pada beberapa kesempatan, ketika menukil dari MAT saudara Abduh ZA ‘kelewatan’ dari memberikan catatan kaki atau keterangan. Padahal terdapat perubahan-perubahan, misalnya “Dr.” menjadi “DR.”, “p” kecil menjadi “P”, … bahkan banyak terdapat kata-kata yang hilang dari penukilan. Semua itu tanpa komentar dan tanpa catatan kaki. Maka wajar kalau kemudian ada yang mengatakan bahwa ’sebenarnya saudara Abduh ZA ini tidak becus dalam menukil.’
Bahkan ada satu kalimat penting yang hilang dari penukilannya, yaitu ketika ia menukil dalam STSK hal. 142 sebagai berikut :
“Sesungguhnya Bani Isra-il telah berpecah belah menjadi 72 golongan, dan umatku akan berpecah belah menjadi 73 golongan”. Para shahabat bertanya: Siapakah golongan (yang selamat) itu, Wahai Rasulullah? Beliau menjawab: Apa yang aku dan para shahabatku ada di atasnya”.
Kalimat tersebut dinukil oleh saudara Abduh dari MAT hal 78. Ternyata ada satu kalimat penting yang hilang, yaitu kalimat “Mereka semua di neraka kecuali satu golongan.”; namun saudara Abduh ZA tetap mengatakan pada catatan kakinya (no. 247) :
“Dikutip sesuai aslinya, termasuk huruf besar pada kata “Wahai.”
Perhatikan, sekadar untuk urusan sepele, saudara Abduh ZA masih sempat ngurusi. Sehingga dia menekankan bahwa huruf besar pada kata “Wahai” pun sesuai aslinya. Padahal ada perkara yang lebih penting dari sekadar huruf besar, yaitu satu kalimat penting yang hilang dari penukilannya. Namun dengan yakin saudara Abduh ZA tetap mengucapkan “Dikutip sesuai aslinya, … “, padahal faktanya tidak sesuai aslinya. Bagaimana mau dikatakan sesuai aslinya, lha wong satu kalimat penting hilang dari penukilan? Maka wajar kalau ada yang mengatakan bahwa ucapan saudara Abduh ZA : “Dikutip sesuai aslinya, … .” kali ini adalah ucapan yang “dusta.”
Namun saudara Abduh ZA rupanya emosi dan kebakaran jenggot ketika Al-Ustadz Luqman menunjukkan kesalahan-kesalahan Abduh tersebut dalam MDMTK dengan judul : Abduh Tidak Becus dan Tidak Amanah.
Ketika mengawali pembahasan tersebut, Al-Ustadz Luqman sudah menyebutkan alasannya dengan baik kenapa beliau membuat pembahasan tersebut, yaitu sebagai berikut :
‘Bab ketiga ini, sengaja kami tuliskan dalam rangka membuktikan sejauh mana tingkat amanah dan ketelitian saudara Abduh ZA dalam menukil beberapa pernyataan kami dari buku MAT baik dalam bentuk menambah sesuatu yang tidak ada pada buku kami, atau menghilangkan dan mengubah sesuatu yang ada atau termaktub pada buku kami tersebut.
Mungkin saja pembahasan ini tampak terkesan berlebihan bagi sebagian pembaca. Namun terpaksa kami menampilkannya karena beberapa alasan, antara lain:
1. Saudara Abduh ZA telah mempromosikan buku STSK-nya ini sebagai buku yang ilmiah, objektif, dan proporsional.
2. Pujian setinggi langit dari penerbitnya, Pustaka Al-Kautsar.
3. Untuk lebih menampilkan kesan ilmiah, saudara Abduh ZA selalu berupaya minta izin terhadap hampir setiap perubahan, penambahan, atau pengurangan yang dia lakukan dalam penukilannya. Sampai-sampai sekadar masalah cetak tebal, penggunaan huruf kapital atau tidak, huruf miring (italic), maupun garis bawah. Kalau ada kesalahan pada sumber asli dia biarkan apa adanya, kemudian dia koreksi dengan cara memberi catatan kaki pada kata yang salah tersebut. Bahkan dia sering menekankan dengan mengatakan: “Kami nukil persis seperti aslinya…” atau “Dikutip sesuai aslinya…”
Contohnya:
Catatan kaki no. 236 halaman 138:
“Demikian tertulis di buku aslinya, dengan huruf kecil (s) pada kata shahih.”
Catatan kaki no. 240 halaman 140 :
“Ibid, hlm 178. Kami nukil persis seperti aslinya, termasuk huruf besar dan kecil pada kata “Ahlus Sunnah” dan “ahlus sunnah” serta “‘ulama” dan “ulama.” “
Catatan kaki no. 247 halaman 142:
“Mereka Adalah Teroris!/hlm 78/Cetakan pertama. Dikutip sesuai aslinya, termasuk huruf besar pada kata “Wahai.” Anda bisa melihat takhrijnya dalam buku Al Ustadz Luqman tersebut.”
Catatan kaki no. 259 halaman 148:
“Demikian tertulis di buku Al Ustadz Luqman; instensif. Mungkin maksudnya intensif.”
Catatan kaki no. 237 halaman 138:
“Seharusnya “Takhrij” dengan garis bawah pada huruf “i”.”
Catatan kaki no. 231 halaman 136:
“Ibid, hlm 219-220. Kata-kata yang bergaris bawah dari kami, sekadar untuk penekanan. Sedangkan, huruf tebal pada “Usamah bin Laden” asli dari Al Ustadz Luqman.”
Demikianlah berbagai komentar dan catatan kaki yang menghiasi buku STSK, yang tebalnya hanya xxviii + 384 hlm namun telah dihiasi dengan kurang lebih 20 + 711 catatan kaki. Kalau boleh kami juluki buku STSK ini dengan julukan “Buku Seribu Catatan Kaki.”
Dengan tiga alasan di atas, terpaksa kami menampilkan bab ini dalam rangka membuktikan ketidakbecusan dan keamanahan saudara Abduh ZA dalam penukilan-penukilannya.
Insya Allah kita semua masih belum lupa ketidakbecusan dan ketidakamanahan saudara Abduh ZA dalam menukil beberapa data. Contohnya apa yang dilakukannya dalam menukil salah satu hadits yang terdapat pada teks “Fatwa Tandingan” … . ”
(Kemudian di akhir pembahasan, Al-Ustadz Luqman juga mengatakan) :
“Mungkin saja sebagian pembaca menganggap ketidakbecusan saudara Abduh ZA dalam penukilan-penukilannya bukanlah suatu perkara yang penting. Kami memaklumi jika ada sebagian pembaca yang beranggapan seperti ini. Di samping alasan-alasan yang sudah kami sebutkan di atas, kenapa kami menampilkan permasalahan ini, perlu diketahui bahwa ketidakbecusan penukilan seperti ini sebagiannya berakibat fatal dan dapat mempengaruhi pemahaman dan kesimpulan pembaca terhadap suatu permasalahan. Di samping, tentunya, ini suatu bentuk ketidakamanahan, ketidakjujuran, dan ketidakbecusan yang diwarnai dengan semangat menggebu untuk mendiskreditkan kami. Ini merupakan bentuk propaganda pembentukan opini murahan yang dilakukan saudara Abduh ZA. Wallahu a’lam.
Sekadar contoh, apa yang telah dilakukan oleh saudara Abduh ZA ketika menghapus atau dengan sengaja tidak menukil secara lengkap pernyataan kami dalam “Catatan Kaki no. 20” (buku MAT halaman 79/cet. I atau halaman 87/cet. II), yaitu tepatnya pada kalimat “Riwayat Ath Thabrani di Ash Shaghir I/256.”.
Hal itu berakibat sangat fatal, yang dengannya saudara Abduh ZA berhasil menggiring sebagian pembaca yang mayoritasnya awam untuk berkesimpulan bahwa kami telah berdusta atas nama beberapa ‘ulama. Para pembaca dapat melihat kembali pemaparan kami tentang Kedustaan Tuduhan Dusta.”
–demikian penjelasan Al-Ustadz Luqman dalam MDMTK hal. 436-437 dan hal. 446–
Namun pembahasan tersebut dibantah oleh saudara Abduh Zulfidar Akaha dalam BAUS-nya dengan pembahasan khusus berjudul : CATATAN 9 Tidak Becus dan Tidak Amanah dalam Menukil versi Al Ustadz Luqman. Dengan diiringi berbagai komentar dan catatan kaki yang jangan ditanya lagi apa isinya.
Di antara komentar saudara Abduh ZA dalam pembahasan “Catatan 9″ tersebut adalah dalam catatan kaki no. 233 hal. 81, ia mengatakan :
“Jika kebetulan kesalahan tersebut termasuk dalam hal yang dibicarakan atau kami nukil, insya Allah akan kami sebutkan. Akan tetapi, sama sekali tanpa tendensi menyudutkan atau mendiskreditkan, melainkan pure memberitahukan apa yang benar saja.
Aneh pula saudara Abduh ZA ini. Padahal pada tiga halaman sebelumnya, saudara Abduh ZA mengatakan bahwa menyebutkan kesalahan-kesalahan sepele semacam ini merupakan pekerjaan orang yang kesukaan dan kebiasaannya adalah mencari-cari kesalahan orang lain. Perhatikan ucapan saudara Abduh ZA selengkapnya pada halaman 78 :
Dan, kami kira setiap orang yang berakal sehat pun pasti memaklumi bahwa hal ini adalah kesalahan manusiawi biasa yang bisa terjadi pada siapapun. Hanya orang-orang yang kesukaan dan kebiasaannya suka mencari-cari kesalahan orang lain sajalah yang mempunyai kelebihan bisa meluangkan waktunya untuk mengurusi hal-hal sepele semacam ini. Adapun orang yang mempunyai prioritas dalam hidupnya, niscaya tidak akan sempat memikirkan dan memperhatikan hal-hal sepele begini.”
[cetak tebal dari saya]
Sadar maupun tidak -dan diakui maupun tidak- yang dimaksud oleh saudara Abduh ZA dengan ucapannya tersebut sebenarnya adalah dirinya sendiri.
footnote
2) Saya kira, setiap orang yang berakal sehat pun pasti memaklumi bahwa kesalahan ketik yang terdapat dalam MAT merupakan kesalahan manusiawi biasa yang bisa terjadi pada siapapun. Hanya orang-orang yang kesukaan dan kebiasaannya suka mencari-cari kesalahan orang lain sajalah yang mempunya kelebihan bisa meluangkan waktunya untuk mengurusi hal-hal sepele semacam ini. adapun orang yang mempunyai prioritas dalam hidupnya, niscaya ia tidak akan sempat memikirkan dan memperhatikan hal-hal sepele begini.
3) Ma’af, saya membawakan contoh dari buku DSDB ini sekadar contoh saja bagaimana teknis nukil-menukil yang dilakukan saudara Abduh ZA. Yang menjadi penekanan saya bukan pada isi kalimat. Ada pun isi kalimat ucapan Abu Abdirrahman Al Thalibi ini tentu saja merupakan ucapan yang tidak benar.
4) Kesalahan ini sudah dibenahi dalam MAT cetakan kedua hal. 87. namun anehnya saudara Abduh mengabaikannya.
5) Perhatikan, ternyata saudara Abduh ini juga punya dan membaca MAT cetakan kedua. Tapi kenapa ia mengabaikan pembenahan-pembenahan yang ada?
6) Kesalahan ketik dan semisalnya merupakan perkara yang wajar dan sering terjadi. Jika hal semacam ini yang sudah jamak terjadi saja masih juga dikritisi, maka jangan salahkan kalau ada yang mengatakan “kurang kerjaan.” Apalagi jika orangnya sudah melakukan pembenahan atas kesalahannya, tapi masih tetap saja dikritisi, maka benar-benar yang mengkritisi itu adalah orang yang kurang kerjaan.




