|
Tidak dapat dipungkiri bahwa manhaj salaf dalam memahami Al-Qur‘an dan As-Sunnah bagaikan duri dalam daging bagi para penebar paham sesat, serta menjadi tembok penghalang bagi berbagai kelompok dan aliran sempalan dalam upaya mereka menebarkan pahamnya di tengah umat. Tentunya mereka tidak akan berani terang-terangan menolak untuk kembali kepada Al-Qur‘an dan As-Sunnah berdasarkan manhaj as-salafush shalih karena itu merupakan suatu kekonyolan dan akan menyulitkan mereka. Tetapi penolakan tersebut mereka lakukan dengan berbagai ungkapan yang terkesan ilmiah dan tidak menyerang namun pada hakekatnya itu adalah sikap penolakan terhadap manhaj salaf. Sebagian mereka mengatakan bahwa,
n Janganlah kita terlalu tekstual dalam memahami nash-nash Al-Qur‘an dan As-Sunnah.
n Kita harus mengaktifkan akal ke arah ijtihad dan pembah-aruan.
n Masing-masing kelompok bekerja pada bidangnya menutupi kekurangan atau kelemahan kelompok lain.
n Masing-masing kelompok sama-sama berbuat untuk La ilaha Illallah.
n Kita harus lebih bisa menyesuaikan dengan kultur setiap daerah.
n Jangan terlalu sibuk dengan pusaran polemik masalah aqidah.
n Kita tidak boleh terlalu bergelut dengan hal-hal yang mengundang perbedaan namun tidak memperhatikan hal-hal yang menjadi kesepakatan.
n Atau prinsip utama kelompok IM yang sering mereka dengungkan, yaitu: “Kita bekerja sama dalam perkara yang kita sepakati, dan saling mentolerir dalam perkara yang kita perselisihkan.”
Itulah beberapa ungkapan dari berbagai kelompok sempalan yang berada di luar garis manhaj generasi as-salafush shalih. Dengan ungkapan-ungkapan yang nampak indah dan diplomatis itu, mereka menolak untuk beramal dan beraqidah serta memahami Al-Qur’an dan Al-Hadits sesuai dengan pemahaman generasi as-salafush shalih.
Beberapa ungkapan yang kami tampilkan di atas —yang pada hakekatnya adalah upaya menjauhkan umat dari manhaj salaf— sebenarnya adalah ungkapan-ungkapan yang banyak mengacu kepada paham tokoh-tokoh IM, baik Hasan Al-Banna sebagai pendirinya maupun tokoh-tokoh lainnya, termasuk di antaranya Yusuf Al-Qaradhawi tokoh pujaan saudara Abduh ZA dan Pustaka Al-Kautsar. Dalam salah satu tulisannya, Al-Qaradhawi mengatakan:
“Kita menyerukan Jama’ah Salafiyun –apapun kelompok mereka—agar memandang seluruh kaum muslimin sebagai saudara seagama mereka. Toh mereka semua shalat menghadap kiblat yang sama; sekalipun berbeda dalam persoalan cabang akidah atau pun persoalan cabang fikih. Dan Mereka semua adalah sasaran musuh-musuh Islam; yang tak mempedulikan perbedaan-perbedaan antar mereka dan menganggap mereka sebagai satu umat yang beriman pada Tuhan serta Rasul yang sama.” [lihat Kebangkitan Gerakan Islam Dari Masa Transisi Menuju Kematangan, DR. Yusuf Al-Qaradhawi, Penerbit Pustaka Al-Kautsar-Jakarta; hal. 247]
Dari : Menebar Dusta Membela Teroris Khawarij hal. 37-38; 41-42
|